lagu

Free Music Online
Free Music Online

free music at divine-music.info

Selasa, 14 Mei 2013

MAKALAH

MAKALAH

PROSES-PROSES BELAJAR DAN JALUR-JALUR BELAJAR

Disusun Guna Memenuhi Tugas Ujian Tengah Semester
Mata Kuliah Psikologi Belajar


Dosen : Dr.Hj. Imas Kania Rahman,M.Pd.I








Disusun oleh:

Windiani fajrin





FAKULTAS TARBIYAH
PRODI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH (PGMI)
INSTITUT AGAMA ISLAM DARUSSALAM (IAID)
TAHUN 2012


BAB 1
PEMBAHASAN
Proses Belajar dan Jalur-Jalur Belajar
1.Rangkaian subproses
Setiap belajar dipandang sebagai rangkaian sejumlah subproses yang masing-masing memegang peranan terbatas dalam keseluruhan proses belajar itu. Setiap subproses berlangsung selama jangka waktu tertentu, biarpun selama beberapa detik saja. Pandangan ini bersumber pada teori-teori belajar yang dikenal sebagai teori-teori pengolahan informasi (information-processing theories of  learning). Teori-teori itu mengembangkan suatu model yang mengandaikan sejumlah satuan struktural yang masing-masing mempunyai fungsi tertentu. Satuan-satuan struktural itu bersama-sama membentuk suatu keseluruhan.
Adapun satuan-satuan struktural bersama fungsinya adalah sebagai berikut:
a. Dari lingkungan di sekitarnya, subyek menerima rangsangan-rangsangan yang ditampung oleh alat-alat indera (receptors)yang mengolah rangsangan-rangsangan itu, sehingga menjadi rangsang terhadap sistem urat syaraf.
b. Masukan ditampung dalam pusat penampungan kesan-kesan sensoris (sensory register) dan tinggal di situ selama periode waktu sangat singkat. Kesan-kesan sensoris yang berasal dari berbagai alat indera, diolah sedemikian rupa sehingga membentuk suatu pola yang serasi atau “masuk akal”.
c.  Pola perseptual ini masuk ke dalam ingatan jangka waktu singkat (short-term memory=STM) dan tinggal di situ selama kurang lebih 20 detik, kecuali bila informasi yang masuk itu ditahan lebih lama melalui suatu proses penyimpanan, seolah-olah diputar-putarkan sendiri.
d. Ingatan jangka waktu lama (long-term memory=LTM) menampung informasi dalam bentuk organisasi yang telah dihasilkan dan menyimpannya untuk jangka waktu lama. LTM diperkirakan mempunyai daya tampung tidak terbatas, baik dari segi lama waktunya informasi akan disimpan. Penyimpanan informasi dalam LTM ini disebut “storage”. Pada saat ini hasil belajar sebenarnya sudah diperoleh dan tesedia untuk digali lagi bila dibutuhkan).
e.  Informasi yang digali dari LTM masuk ke dalam pusat  perencanaan reaksi/jawaban (response generator). Dalam pusat ini ditentukan, dalam bentuk apa reaksi/jawaban akan diberikan, misalnya dalam bentuk jawaban verbal atau bentuk gerakan-gerakan motorik dan baagaimana pola yang sebaiknya diikuti. Pada dasarnya pusat perencanaan reaksi/jawaban menentukan bentuk dan pola dari reaksi/jawaban yang akan diberikan, yang kemudian ditungkan dalam suatu tindakan atau perbuatan. Hasil perencanaan ini berperanan sebagai masukan bagi satuan struktural berikutnya.
f. Hasil pengolahan dalam pusat perencanaan ditampung dalampusat-pusat pelaksanaan (effector) yang menghasilkan suatu tindakan atau perbuatan yang sesuai (performance).
Menurut teori-teori pengolahan informasi. Proses belajar menjadi proses pengolahan masukan-masukan atau informasi-informasi yang pada setiap subproses diubah atau ditransformir selama setiap subproses informasi yang telah masuk, diubah sifatnya dan dijadikan masukan yang siap diolah dalam subproses berikutnya. Dengan demikian, proses belajar berupa suatu rangkaian peristiwa-peristiwa di dalam subyek(pelajar) sendiri, yang berlangsung secara berurutan.
Jadi, sebenarnya proses belajar itu dimulai dengan mendapat rangsangan dari lingkungan melalui alat-alat indera dan berakhir dengan mendapat petunjuk dari lingkungan bahwa proses belajar telah berlangsung dengan baik (feedback). Masing-masing subproses dapat ditunjang oleh hal-hal yang terjadi di luar subyek, khususnya kejadian-kejadian ekstern sebagai berikut:
a.Rangsangan yang lebih kuat atau tidak terduga, membuat alat-alat indera lebih siap untuk mengamati apa yang terjadi.
b. Tekanan pada rangsangan-rangsangan tertentu membantu untuk mengadakan persepsi yang selektif, sehingga hanya unsur-unsur relevan yang diperhatikan. Misalnya, kata-kata yang dicetak miring atau dengan huruf tebal.
c.  Subproses pengolahan untuk menemukan makana dalam informasi yang telah masuk ke dalam STM, memegang peranan yang sangat pokok (enconding). Subproses-subproses yang mendahuluinya hanya bersifata mempersiapkan, subproses-subproses yang mengikutinya sebenarnya hanyalah memperkuat.
 terjadi (alertness). Misalnya, suara yang keras atau warna yang mencolok menarik perhatian orang; lampu yang tiba-tiba dihidupkan atau dimatikan menyiapkan orang untuk mengamati apa yang akan terjadi.
d.Belum jelas apakah terdapat kejadian-kejadian ekstern yang dapat menjamin penyimpanan informasi dalam LTM. Sebenarnya kunci keberhasilan dalam menyimpan informasi yang baik, terletak dalam kadar dan mutu pengolahan selama informasi disimpan dalam STM, dan dalam usaha subyek sendiri untuk menggali informasi itu dari LTM , mengolahnya kembali dan memasukkannya kembali ke dalam LTM.
e. Merencanakan jawaban/reaksi dan melaksanakan rencana itu dengan berbuat sesuatu yang menampakkan hasil belajar yang telah diperoleh, mendapat dukungan dari petunjuk-petunjuk dalam lingkungan
2.Fase-fase dalam proses belajar di sekolah  
Rangkaian keajadian-kejadian intern yang berlangsung, bila seorang belajar dapat dilukiskan juga sebagai rangkaian fase-fase dalam proses belajar. Khususunya proses belajar, sebagaimana berlangsung di sekolah dapat digambarkan sebagai rangkaian fase-fase yang dilalui oleh siswa.
Rangkaian tersebut dapat dilihat sebagai berikut:
1. Fase motivasi: Siswa harus sadar akan tujuan yang harus dicapai dan bersedia melibatkan diri.
2.  Fase konsentrasi : Siswa khusus memperhatikan unsur-unsur yang relevan, sehingga terbentuk pola perseptual tertentu.
3. Fase mengolah : Sisiwa menahan informasi dalam STM dan mengolah informasi untuk diambil maknanya (dibuat berarti). masukkan ke dalam ingatan. Hasil belajar sudah diperpleh, sebagian atau keseluruhan.
4.  Fase menyimpan : Siswa menyimpan inforamsi yang telah diolah dalam LTM; informasi di Fase menggali (1): Siswa menggali informasi yang tesimpan dalam ingatan dan memasukkannya kembali ke dalam STM (woking memory). Informasi ini dikaitkan dengan informasi baru atau dikaitkan dengan sesuatu di luar lingkup bidang studi yang bersangkutan (transfer). Dimasukkan kembali ke LTM.
5.    Fase menggali (1): Siswa menggali informasi yang tesimpan dalam ingatan dan memasukkannya kembali ke dalam STM (woking memory). Informasi ini dikaitkan dengan informasi baru atau dikaitkan dengan sesuatu di luar lingkup bidang studi yang bersangkutan (transfer). Dimasukkan kembali ke LTM.
6.Fase menggali (2) : Siswa menggali informasi yang tersimpan dalam LTM dan mempersiapkannya sebagai masukan bagi fase prestasi. Langsung atau melalui STM.
7.Fase prestasi : Informasi yang digali digunakan untuk memberikan prestasi yang menampakkan hasil belajar.
8.  Fase umpan balik : Siswa mendapat konfirmasi, sejauh prestasinya tepat. 
Jalur-Jalur Belajar
1.  Jalur belajar informasi verbal
Hasil belajar yang diperoleh ialah pengetahuan yang mengandaikan kemampuan untuk menuangkan pengetahuan itu dalam bentuk bahasa, sehingga dapat dikomunikasikan kepada orang lain. Informasi verbal meliputi cap-cap vebal dan fakta atau data. Banyak konsep dan kaidah disimpan di ingatan dalam bentuk perumusan verbal dan dengan demikian menjadi fakta yang diketahui.
Peranan dan wujud dari beberapa fase dalam jalur informasi verbal ataupun tekanan yang harus diberikan pada fase tertentu:
1. Fase motivasi        : cukup berperanan bila siswa harus mempelajari banyak padanan kata-kata atau banyak fakta.
2.  Fase mengolah    : perlu mendapat  tekanan dalam belajar fakta, karena dalam fase ini siswa mengadakan organisasi yang pada dasarnya berwujud mencari makna atau arti, yang kemudian dituangkan dalam suatu perumusan verbal. Dalam belajar padanan kata-kata, “mengolah” mengambil wujud mengulang-ulang kembali dan hal ini membutuhkan waktu. Fase mengolah kerap disebut “fiksasi” dan berperanan sekali. Makin baik fiksasinya, makin baik pula penyimpanannya dan makin sempurnalah reproduksinya.
3. Fase menggali          : berperanan sekali bila fakta yang telah dihafal, dimasukkan kembali ke dalam LTM untuk dipelajari kembali (review) atau dihubungkan dengan fakta baru. Dengan demikian, working memory memegang peranan pokok dalam belajar informasi verbal.
4.  Fase prestasi            : mengambil wujud menuangkan informasi yang dimiliki dalam perumusan verbal yang tepat, sehingga orang lain dapat menagkapnya dengan jelas.
2.      Jalur belajar kemahiran intelektual
Hasil belajar yang diperoleh ialah perseps, konsep, kaidah dan prinsip yang masing-masing mengandaikan suatu kemampuan untuk mengandalikan suatu kemampuan tersendiri.
 Di bawah ini, secara berturut-turut dibahas jalur belajar perseps, konsep, kaidah, dan prinsip.
a.   Belajar perseptual
Dalam belajar perseptual diskriminasi antara obyek-obyek berdasarkan cirri-ciri fisik, memegang peranan penting
Peranan dan wujud dari beberapa fase dalam belajar perseptual ataupun tekanan yang harus diberikan pada fase tertentu:
1.  Fase konsentrasi       : sangat berperanan dan mengambil wujud mengamati melaui penglihatan, pendengaran, penciuman, perabaan, dan pengecapan. Kalu obyeknya banyak, pengamatan harus diulang-ulang
2.Fase pengolahan       : perlu mendapat tekanan, karena dalam fase itu ditentukan apakah sesuatu berbeda atau sama dengan yang lain dan perbedaan/kesamaan itu menyangkut cirri fisik apa. Sejumlah ciri-ciri fisik yang khas pada suatu obyek, dikombinasikan dalam pola pereseptual tertentu. Kerapkali, anak juga belajar nama untuk ciri-ciri itu dan belajar mengatakan “sama” dan “lain”; ini merupakan permulaan dari kemampuan untuk membahasakan perbedaan-perbedaan itu.
3 . Fase prestasi             : mengambil wujud suatu perbuatan, seperti menunjuk dengan jari atau memakai beberapa kata untuk menyatakan “sama” atau “lain”
4.  Fase umpan balik     : cukup berperanan sebagai konfirmasi terhadap diskriminasi yang telah dibuat.
b.Belajar konsep
Belajar konsep menunut kemampuan untuk menentukan ciri-ciri yang sama pada sejumlah obyek. Ciri-ciri yang sama itu, dapat berupa ciri-ciri fisik, sebagaimana dapat diamati dalam lingkungan hidup fisik.
Peranan dan wujud dari beberapa fase dalam belajar konsep konkret ataupun tekanan yang harus diberikan pada fase tertentu:
1.Fase konsentrasi          : ciri-ciri fisik yang perlu dibeda-bedakan harus diamati secara cermat dan ini membutuhkan konsentrasi.
2.Fase mengolah            : ciri-ciri fisik yang sama diambil bersama-sama. Siswa kerap perlu mengamati kembali benda-benda yang dihadapakn padanya, untuk menegaskan kembali
3. Fase prestasi                : siswa membuktikan bahwa dia sudah memiliki konsep yang dipelajari dengan menunjukkan atau memisah-misahkan, kerap disertai dengan menyebutkan nama untuk konsep itu. 
4. Fase umpan balik        : cukup berperanan sebagai konfirmasi terhadap penggolongan yang telah dibuat.
c.   Belajar kaidah dan prinsip
Belajar kaidah menuntut kemampuan untuk menunjukkan suatu keteraturan (regularity) yang mencakup sejumlah golongan obyek.
Belajar prinsip menunutu kemampuan untuk menggabungkan beberapa kaidah,sampai dapat terjadi kombinasi yang cukup kompleks.
Wujud dan peranan dari beberapa fase dalam belajar kaidah dan prinsip atau tekanan yang harus diberikan pada fase tertentu tidak jauh berbeda dengan apa yang sudah ditekankan dalam pembahasan mengenai fase-fase dalam proses belajar konsep yang didefinisikan, kecuali fase konsentrasi dalam memecahkan problem.
3.Jalur belajar pengaturan kegiatan kognitif
Pengaturan kegiatan kognitif merupakan suatu kemahiran tersendiri; orang yang memiliki kemahiran ini, mampu mengontrol dan menyalurkan aktivitas kognitif yang berlangsung dalam dirinya.
Beberapa fase dalam jalur belajar  dalam pengaturan kegiatan kognitif:
1. Fase motivasi        : kiranya sangat berperanan, karena siswa harus berupaya dengan memeras otaknya sendiri. Kalau kadar motivasi lemah, siswa akan cenderung membiarkan problem menjadi problem: “Terlalu susah untuk memikirkan ini”
2. Fase konsentrasi    : siswa harus mengamati dengan cermat, kalau penyelesaian masalah membutuhkan pengamatan.. 
3. Fase pengolahan    : siswa harus menggali dari ingatan siasat-siasat yang pernah digunakannya; mana yang cocok untuk problem ini. Kalau tidak tersedia siasat dalam ingatan, siswa harus menciptakan siasat baru dan ini membutuhkan pikiran kreatif, paling sedikit pikiran terarah.
4. Fase umpan balik  : siswa mendapat konfirmasi tentang tepat tidaknya penyelesaian yang ditemukannya; konfirmasi ini dapat meningkatkan atau menurunkan motivasi siswa untuk berusaha memeras otak lagi pada lain kesempatan.
4.  Jalur belajar keterampilan motorik
Belajar ketrampilan motorik menuntut kemampuan untuk merangkaikan sejumlah gerak-gerik jasmani,sampai menjadi suatu keseluruhan yang dilakukan dengan gencar dan luas,tanpa perlu memikirkan lagi secara mendetail apa yang dilakukuan dan mengapa dilakukan seperti itu. Selain itu diperlukan pengamatan melalui alat-alat indra dan pengolahan secara kognitif. Contoh seseorang yang akan belajar bermain gitar harus memegang gitar secara tepat menempatkan jari-jari pada dawai tetentu dan menggetarkan dawai itu. Mengingat sifat khas dari belajar keterampilan motorik latihan adalah salah satu peranan pokoknya.
Peranan dan wujud dari beberapa fase dalam belajar ketrampilan motorik atau tekanan yang harus diberikan pada fase tertentu:
1. Fase motivasi          : sangat berperanan, lebih-lebih bila ketrampilan yang dipelajari membutuhkan usaha kontinyu dan banyak waktu latihan.
2.   Fase konsentrasi     : berperanan dalam belajar ketrampilan yang menuntut pengamatan terhadap lingkungan untuk menentukan posisi badan dan memperkirakan jarak, seperti dalam bermain sepak bola.
3.  Fase pengolahan     : mempelajari prosedur yang harus diikuti dan melatih diri, baik subketrampilan maupun keseluruhan rangkaian gerak-gerik, disetai koordinasi.
4.  Fase menggali           : menggali “program mental” yang tersimpan dalam LTM (dari ingatan).
5. Fase umpan balik     : konfirmasi mengambil wujud umpan balik intrinsik atau ekstrinsik.
5. Jalur belajar sikap
            Belajar sikap berarti memperoleh kecenderungan untuk menerima atau menolak suatu objek.
Peranan dan wujud dari beberapa fase dalam belajar sikap atau tekanan yang harus diberikan pada fase tertetu:
1. Fase motivasi     : berperanan dalam rangka belajar menurut pola conditioning Skinner.
 2.  Fase konsentrasi   : perlu mendapat tekanan dalam rangka belajar dari model.
3.  Fase pengolahan    : mencernakan penjelasan verbal yang menyertai teladan yang diberikan oleh model atau menyertai izin untuk berbuat sesuatu yang disenangi setelah siswa memberikan prestasi yang tepat.
4. Fase umpan balik : siswa mendapat konfirmasi mengenai perbuatan dan perkataannya yang mencerminkan suatu sikap yang positif.

Proses Belajar Konatif dan Afektif
Perkembangan anak ditopang dengan belajar di bidang kognitif, sensorik-motorik (psikomotorik) dan dinamik-afektif ini seiring dengan pembedaan pada kepribadian antara aspek kognitif, aspek dinamik-afektif dan aspek psikomotorik. Winkel menekankan pada belajar kognitif demi perkembangan konatif siswa, bukanlah hal yang mengherankan karene sekolah sebagai institusi pendidikan formal memang diserahi tugas untuk mengutamakan perkembangan kognitif siswa, baik sebagai aspek perkembangan tersendiri maupun sebagai unsur yang ikut berperanan dalam aspek perkembangan konatif, afektif, sosial dan motorik. Di samping itu, pengembangan psikologi kognitif selama bertahun-tahun semakin menampakkan dampak positif dari perkembangan kognitif bagi kehidupan orang dewasa.
            Dalam lingkup pendidikan formal sebangaimana yang berlangsung di sekolah, diusahakan untuk membentuk manusia muda menjadi orang dewasa, baik dalam aspek perkembangannya yang kognitif maupun konatif dan afektif. Lingkungan sekolah merupakan tempat bagi pembentukan kepribadian secara menyeluruk dan utuh, meskipun tanggungjawab sekolah yang utama menyangkut perkembangan kognitif.
            Proses belajar di bidang konatif, kognitif, afektif dan psikomotorik memang harus saling dibedakan, tapi tidak dapat seluruhnya dipisahkan dengan yang lain. Untuk belajar dibidang kognitif, siswa harus berkemauan, berperasaan senang dan sering melakukan gerakan moorik tertentu; untuk belajar dibidang afektif dengan dengan hasil yang menetap, perasaan siswa perlu disertai dengan pengetahuan dan pemahaman serta kelincahan dalam bergerak. Dengan demikian, pendidikan sekolah mengutamakan perkembangan kognitif sudah meletakkan suatu dasar untuk belajar di bidang konatif dan afektif. Namun, perlu juga perhatian khusus diberikan pada bekajar dibidang konatif dan afektif, sejauh kedua bidang belajar ini dibedakan dan dapat dibina sendiri.
            Dalam belajar konatif tujuan final yang harus dicapai adalah terbentuknya kemauan yang bercorak dewasa dan bercirian tertanam dalam, tekun, sabar, penuh keberanian, penuh pertimbangan dan mampu menentukan prioritas. Ciri-eiri ini harus ditamkan dan dikembangkan, baik dalam lingkungan keluarga atau lingkungan sekolah. Proses belajar konatif memang berlangsung dalam tahap-tahap tertentu tapi memakan waktu yang bertahun-tahun. Bahkan harus dikatakan dahwa dalamkeseluruhanya prosesnya terdiri dari danyak proses bagian atau subproses. Hasil dari masing-masing proses bagian/subproses menjadi “milik pribadi” anak yang sedang berkembang dan kemudian bertumpuk-tumpuk, sampai ahirnya kemauan terbentuk sepenuhnya.













BAB II
KESIMPULAN
            Awalnya proses belajar itu menggunakan dua dimensi yakni dimensi yang pertama terdapat dua bentuk belajar yaitu belajar reseptif versus belajar dengan menemukan sendiri. Pada dimensi yang kedua terdapat juga dua bentuk belajar yaitu belajar dengan menghapal saja versus belajar dengan memahami. Namun kedua dimensi itu saling berhubungan sehingga dapat dikatakan bahwa  proses belajar itu merupakan suatu aktivitas psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan  yang melalui  proses-proses belajar yang berbeda-beda sehingga menghasilkan suatu pencapaian tertentu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar