MAKALAH
PROSES-PROSES BELAJAR DAN JALUR-JALUR BELAJAR
Disusun Guna Memenuhi Tugas Ujian Tengah Semester
Mata Kuliah Psikologi Belajar
Dosen : Dr.Hj. Imas Kania Rahman,M.Pd.I
Disusun
oleh:
Windiani fajrin
FAKULTAS TARBIYAH
PRODI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH (PGMI)
INSTITUT AGAMA ISLAM DARUSSALAM (IAID)
TAHUN 2012
BAB 1
PEMBAHASAN
Proses Belajar dan Jalur-Jalur Belajar
1.Rangkaian
subproses
Setiap
belajar dipandang sebagai rangkaian sejumlah subproses yang masing-masing memegang
peranan terbatas dalam keseluruhan proses belajar itu. Setiap subproses
berlangsung selama jangka waktu tertentu, biarpun selama beberapa detik saja.
Pandangan ini bersumber pada teori-teori belajar yang dikenal sebagai
teori-teori pengolahan informasi (information-processing theories of
learning). Teori-teori itu mengembangkan suatu model yang mengandaikan
sejumlah satuan struktural yang masing-masing mempunyai fungsi tertentu.
Satuan-satuan struktural itu bersama-sama membentuk suatu keseluruhan.
Adapun satuan-satuan struktural bersama
fungsinya adalah sebagai berikut:
a. Dari lingkungan di sekitarnya,
subyek menerima rangsangan-rangsangan yang ditampung oleh alat-alat
indera (receptors)yang mengolah rangsangan-rangsangan itu, sehingga menjadi
rangsang terhadap sistem urat syaraf.
b. Masukan ditampung dalam pusat
penampungan kesan-kesan sensoris (sensory register) dan tinggal di
situ selama periode waktu sangat singkat. Kesan-kesan sensoris yang berasal
dari berbagai alat indera, diolah sedemikian rupa sehingga membentuk suatu pola
yang serasi atau “masuk akal”.
c. Pola perseptual ini masuk
ke dalam ingatan jangka waktu singkat (short-term memory=STM) dan
tinggal di situ selama kurang lebih 20 detik, kecuali bila informasi yang masuk
itu ditahan lebih lama melalui suatu proses penyimpanan, seolah-olah
diputar-putarkan sendiri.
d. Ingatan jangka waktu lama (long-term
memory=LTM) menampung informasi dalam bentuk organisasi yang telah
dihasilkan dan menyimpannya untuk jangka waktu lama. LTM diperkirakan mempunyai
daya tampung tidak terbatas, baik dari segi lama waktunya informasi akan
disimpan. Penyimpanan informasi dalam LTM ini disebut “storage”. Pada
saat ini hasil belajar sebenarnya sudah diperoleh dan tesedia untuk digali lagi
bila dibutuhkan).
e. Informasi yang digali dari
LTM masuk ke dalam pusat perencanaan
reaksi/jawaban (response generator). Dalam pusat ini ditentukan, dalam
bentuk apa reaksi/jawaban akan diberikan, misalnya dalam bentuk jawaban verbal
atau bentuk gerakan-gerakan motorik dan baagaimana pola yang sebaiknya diikuti.
Pada dasarnya pusat perencanaan reaksi/jawaban menentukan bentuk dan pola dari
reaksi/jawaban yang akan diberikan, yang kemudian ditungkan dalam suatu
tindakan atau perbuatan. Hasil perencanaan ini berperanan sebagai masukan bagi
satuan struktural berikutnya.
f. Hasil pengolahan dalam pusat
perencanaan ditampung dalampusat-pusat pelaksanaan (effector) yang
menghasilkan suatu tindakan atau perbuatan yang sesuai (performance).
Menurut
teori-teori pengolahan informasi. Proses belajar menjadi proses pengolahan
masukan-masukan atau informasi-informasi yang pada setiap subproses diubah atau
ditransformir selama setiap subproses informasi yang telah masuk, diubah
sifatnya dan dijadikan masukan yang siap diolah dalam subproses berikutnya.
Dengan demikian, proses belajar berupa suatu rangkaian
peristiwa-peristiwa di dalam subyek(pelajar) sendiri, yang
berlangsung secara berurutan.
Jadi,
sebenarnya proses belajar itu dimulai dengan mendapat rangsangan dari
lingkungan melalui alat-alat indera dan berakhir dengan mendapat petunjuk dari
lingkungan bahwa proses belajar telah berlangsung dengan baik (feedback).
Masing-masing subproses dapat ditunjang oleh hal-hal yang terjadi di luar
subyek, khususnya kejadian-kejadian ekstern sebagai berikut:
a.Rangsangan yang lebih kuat atau tidak
terduga, membuat alat-alat indera lebih siap untuk mengamati apa yang terjadi.
b. Tekanan pada rangsangan-rangsangan
tertentu membantu untuk mengadakan persepsi yang selektif, sehingga hanya
unsur-unsur relevan yang diperhatikan. Misalnya, kata-kata yang dicetak miring
atau dengan huruf tebal.
c. Subproses pengolahan untuk
menemukan makana dalam informasi yang telah masuk ke dalam STM, memegang
peranan yang sangat pokok (enconding). Subproses-subproses yang
mendahuluinya hanya bersifata mempersiapkan, subproses-subproses yang
mengikutinya sebenarnya hanyalah memperkuat.
terjadi (alertness). Misalnya, suara
yang keras atau warna yang mencolok menarik perhatian orang; lampu yang
tiba-tiba dihidupkan atau dimatikan menyiapkan orang untuk mengamati apa yang
akan terjadi.
d.Belum jelas apakah terdapat
kejadian-kejadian ekstern yang dapat menjamin penyimpanan informasi dalam LTM.
Sebenarnya kunci keberhasilan dalam menyimpan informasi yang baik, terletak
dalam kadar dan mutu pengolahan selama informasi disimpan dalam STM, dan dalam
usaha subyek sendiri untuk menggali informasi itu dari LTM , mengolahnya
kembali dan memasukkannya kembali ke dalam LTM.
e. Merencanakan jawaban/reaksi dan
melaksanakan rencana itu dengan berbuat sesuatu yang menampakkan hasil belajar
yang telah diperoleh, mendapat dukungan dari petunjuk-petunjuk dalam lingkungan
2.Fase-fase dalam proses belajar di
sekolah
Rangkaian
keajadian-kejadian intern yang berlangsung, bila seorang belajar dapat
dilukiskan juga sebagai rangkaian fase-fase dalam proses belajar. Khususunya
proses belajar, sebagaimana berlangsung di sekolah dapat digambarkan sebagai
rangkaian fase-fase yang dilalui oleh siswa.
Rangkaian tersebut dapat dilihat sebagai
berikut:
1. Fase motivasi: Siswa harus sadar
akan tujuan yang harus dicapai dan bersedia melibatkan diri.
2. Fase konsentrasi : Siswa
khusus memperhatikan unsur-unsur yang relevan, sehingga terbentuk pola
perseptual tertentu.
3. Fase mengolah : Sisiwa menahan
informasi dalam STM dan mengolah informasi untuk diambil maknanya (dibuat
berarti). masukkan ke dalam ingatan. Hasil belajar sudah diperpleh, sebagian
atau keseluruhan.
4. Fase menyimpan : Siswa
menyimpan inforamsi yang telah diolah dalam LTM; informasi di Fase menggali
(1): Siswa menggali informasi yang tesimpan dalam ingatan dan memasukkannya
kembali ke dalam STM (woking memory). Informasi ini dikaitkan dengan
informasi baru atau dikaitkan dengan sesuatu di luar lingkup bidang studi yang
bersangkutan (transfer). Dimasukkan kembali ke LTM.
5. Fase menggali
(1): Siswa menggali informasi yang tesimpan dalam ingatan dan memasukkannya
kembali ke dalam STM (woking memory). Informasi ini dikaitkan dengan
informasi baru atau dikaitkan dengan sesuatu di luar lingkup bidang studi yang
bersangkutan (transfer). Dimasukkan kembali ke LTM.
6.Fase menggali (2) : Siswa menggali
informasi yang tersimpan dalam LTM dan mempersiapkannya sebagai masukan bagi
fase prestasi. Langsung atau melalui STM.
7.Fase prestasi : Informasi yang digali
digunakan untuk memberikan prestasi yang menampakkan hasil belajar.
8. Fase umpan balik : Siswa
mendapat konfirmasi, sejauh prestasinya tepat.
Jalur-Jalur
Belajar
1. Jalur
belajar informasi verbal
Hasil
belajar yang diperoleh ialah pengetahuan yang mengandaikan kemampuan untuk
menuangkan pengetahuan itu dalam bentuk bahasa, sehingga dapat dikomunikasikan
kepada orang lain. Informasi verbal meliputi cap-cap vebal dan fakta atau data.
Banyak konsep dan kaidah disimpan di ingatan dalam bentuk perumusan verbal dan
dengan demikian menjadi fakta yang diketahui.
Peranan
dan wujud dari beberapa fase dalam jalur informasi verbal ataupun tekanan yang
harus diberikan pada fase tertentu:
1. Fase
motivasi : cukup berperanan bila
siswa harus mempelajari banyak padanan kata-kata atau banyak fakta.
2. Fase
mengolah : perlu mendapat tekanan dalam belajar fakta, karena dalam fase
ini siswa mengadakan organisasi yang pada dasarnya berwujud mencari makna atau
arti, yang kemudian dituangkan dalam suatu perumusan verbal. Dalam belajar
padanan kata-kata, “mengolah” mengambil wujud mengulang-ulang kembali dan hal
ini membutuhkan waktu. Fase mengolah kerap disebut “fiksasi” dan berperanan
sekali. Makin baik fiksasinya, makin baik pula penyimpanannya dan makin sempurnalah
reproduksinya.
3. Fase menggali
: berperanan sekali bila fakta yang telah dihafal, dimasukkan kembali ke dalam
LTM untuk dipelajari kembali (review) atau dihubungkan dengan fakta
baru. Dengan demikian, working memory memegang peranan pokok
dalam belajar informasi verbal.
4. Fase
prestasi :
mengambil wujud menuangkan informasi yang dimiliki dalam perumusan verbal yang
tepat, sehingga orang lain dapat menagkapnya dengan jelas.
2. Jalur belajar kemahiran intelektual
Hasil
belajar yang diperoleh ialah perseps, konsep, kaidah dan prinsip yang masing-masing
mengandaikan suatu kemampuan untuk mengandalikan suatu kemampuan tersendiri.
Di bawah ini, secara berturut-turut dibahas
jalur belajar perseps, konsep, kaidah, dan prinsip.
a. Belajar
perseptual
Dalam
belajar perseptual diskriminasi antara obyek-obyek berdasarkan cirri-ciri
fisik, memegang peranan penting
Peranan
dan wujud dari beberapa fase dalam belajar perseptual ataupun tekanan yang
harus diberikan pada fase tertentu:
1. Fase
konsentrasi : sangat berperanan dan
mengambil wujud mengamati melaui penglihatan, pendengaran, penciuman, perabaan,
dan pengecapan. Kalu obyeknya banyak, pengamatan harus diulang-ulang
2.Fase
pengolahan : perlu mendapat tekanan,
karena dalam fase itu ditentukan apakah sesuatu berbeda atau sama dengan yang
lain dan perbedaan/kesamaan itu menyangkut cirri fisik apa. Sejumlah ciri-ciri
fisik yang khas pada suatu obyek, dikombinasikan dalam pola pereseptual
tertentu. Kerapkali, anak juga belajar nama untuk ciri-ciri itu dan belajar
mengatakan “sama” dan “lain”; ini merupakan permulaan dari kemampuan untuk
membahasakan perbedaan-perbedaan itu.
3 . Fase
prestasi
: mengambil wujud suatu perbuatan, seperti menunjuk dengan jari atau memakai
beberapa kata untuk menyatakan “sama” atau “lain”
4. Fase umpan
balik : cukup berperanan sebagai konfirmasi terhadap
diskriminasi yang telah dibuat.
b.Belajar
konsep
Belajar
konsep menunut kemampuan untuk menentukan ciri-ciri yang sama pada sejumlah
obyek. Ciri-ciri yang sama itu, dapat berupa ciri-ciri fisik, sebagaimana dapat
diamati dalam lingkungan hidup fisik.
Peranan
dan wujud dari beberapa fase dalam belajar konsep konkret ataupun tekanan yang
harus diberikan pada fase tertentu:
1.Fase
konsentrasi : ciri-ciri
fisik yang perlu dibeda-bedakan harus diamati secara cermat dan ini membutuhkan
konsentrasi.
2.Fase
mengolah : ciri-ciri
fisik yang sama diambil bersama-sama. Siswa kerap perlu mengamati kembali
benda-benda yang dihadapakn padanya, untuk menegaskan kembali
3. Fase
prestasi :
siswa membuktikan bahwa dia sudah memiliki konsep yang dipelajari dengan
menunjukkan atau memisah-misahkan, kerap disertai dengan menyebutkan nama untuk
konsep itu.
4. Fase umpan
balik : cukup berperanan sebagai konfirmasi terhadap penggolongan
yang telah dibuat.
c. Belajar
kaidah dan prinsip
Belajar
kaidah menuntut kemampuan untuk menunjukkan suatu keteraturan (regularity)
yang mencakup sejumlah golongan obyek.
Belajar
prinsip menunutu kemampuan untuk menggabungkan beberapa kaidah,sampai dapat
terjadi kombinasi yang cukup kompleks.
Wujud
dan peranan dari beberapa fase dalam belajar kaidah dan prinsip atau tekanan
yang harus diberikan pada fase tertentu tidak jauh berbeda dengan apa yang
sudah ditekankan dalam pembahasan mengenai fase-fase dalam proses belajar
konsep yang didefinisikan, kecuali fase konsentrasi dalam memecahkan problem.
3.Jalur belajar pengaturan kegiatan kognitif
Pengaturan
kegiatan kognitif merupakan suatu kemahiran tersendiri; orang yang memiliki
kemahiran ini, mampu mengontrol dan menyalurkan aktivitas kognitif yang
berlangsung dalam dirinya.
Beberapa
fase dalam jalur belajar dalam
pengaturan kegiatan kognitif:
1. Fase
motivasi : kiranya sangat berperanan,
karena siswa harus berupaya dengan memeras otaknya sendiri. Kalau kadar
motivasi lemah, siswa akan cenderung membiarkan problem menjadi problem:
“Terlalu susah untuk memikirkan ini”
2. Fase
konsentrasi : siswa harus mengamati dengan cermat, kalau
penyelesaian masalah membutuhkan pengamatan..
3. Fase
pengolahan : siswa harus menggali dari ingatan siasat-siasat
yang pernah digunakannya; mana yang cocok untuk problem ini. Kalau tidak
tersedia siasat dalam ingatan, siswa harus menciptakan siasat baru dan ini
membutuhkan pikiran kreatif, paling sedikit pikiran terarah.
4. Fase umpan balik : siswa
mendapat konfirmasi tentang tepat tidaknya penyelesaian yang ditemukannya;
konfirmasi ini dapat meningkatkan atau menurunkan motivasi siswa untuk berusaha
memeras otak lagi pada lain kesempatan.
4. Jalur belajar keterampilan motorik
Belajar
ketrampilan motorik menuntut kemampuan untuk merangkaikan sejumlah gerak-gerik
jasmani,sampai menjadi suatu keseluruhan yang dilakukan dengan gencar dan
luas,tanpa perlu memikirkan lagi secara mendetail apa yang dilakukuan dan
mengapa dilakukan seperti itu. Selain itu diperlukan pengamatan melalui
alat-alat indra dan pengolahan secara kognitif. Contoh seseorang yang akan
belajar bermain gitar harus memegang gitar secara tepat menempatkan jari-jari
pada dawai tetentu dan menggetarkan dawai itu. Mengingat sifat khas dari
belajar keterampilan motorik latihan adalah salah satu peranan pokoknya.
Peranan
dan wujud dari beberapa fase dalam belajar ketrampilan motorik atau tekanan
yang harus diberikan pada fase tertentu:
1. Fase
motivasi : sangat
berperanan, lebih-lebih bila ketrampilan yang dipelajari membutuhkan usaha
kontinyu dan banyak waktu latihan.
2. Fase
konsentrasi : berperanan dalam belajar ketrampilan
yang menuntut pengamatan terhadap lingkungan untuk menentukan posisi badan dan
memperkirakan jarak, seperti dalam bermain sepak bola.
3. Fase
pengolahan : mempelajari prosedur yang harus diikuti
dan melatih diri, baik subketrampilan maupun keseluruhan rangkaian gerak-gerik,
disetai koordinasi.
4. Fase
menggali : menggali
“program mental” yang tersimpan dalam LTM (dari ingatan).
5. Fase umpan
balik : konfirmasi mengambil wujud umpan balik
intrinsik atau ekstrinsik.
5. Jalur belajar sikap
Belajar sikap berarti memperoleh kecenderungan untuk
menerima atau menolak suatu objek.
Peranan
dan wujud dari beberapa fase dalam belajar sikap atau tekanan yang harus
diberikan pada fase tertetu:
1. Fase
motivasi : berperanan dalam rangka belajar menurut pola
conditioning Skinner.
2. Fase
konsentrasi : perlu mendapat tekanan dalam rangka belajar dari
model.
3. Fase
pengolahan : mencernakan penjelasan verbal yang menyertai
teladan yang diberikan oleh model atau menyertai izin untuk berbuat sesuatu
yang disenangi setelah siswa memberikan prestasi yang tepat.
4. Fase umpan balik : siswa
mendapat konfirmasi mengenai perbuatan dan perkataannya yang mencerminkan suatu
sikap yang positif.
Proses
Belajar Konatif dan Afektif
Perkembangan
anak ditopang dengan belajar di bidang kognitif, sensorik-motorik
(psikomotorik) dan dinamik-afektif ini seiring dengan pembedaan pada
kepribadian antara aspek kognitif, aspek dinamik-afektif dan aspek
psikomotorik. Winkel menekankan pada belajar kognitif demi perkembangan konatif
siswa, bukanlah hal yang mengherankan karene sekolah sebagai institusi
pendidikan formal memang diserahi tugas untuk mengutamakan perkembangan
kognitif siswa, baik sebagai aspek perkembangan tersendiri maupun sebagai unsur
yang ikut berperanan dalam aspek perkembangan konatif, afektif, sosial dan
motorik. Di samping itu, pengembangan psikologi kognitif selama bertahun-tahun
semakin menampakkan dampak positif dari perkembangan kognitif bagi kehidupan
orang dewasa.
Dalam lingkup pendidikan formal sebangaimana yang berlangsung di sekolah,
diusahakan untuk membentuk manusia muda menjadi orang dewasa, baik dalam aspek
perkembangannya yang kognitif maupun konatif dan afektif. Lingkungan sekolah
merupakan tempat bagi pembentukan kepribadian secara menyeluruk dan utuh,
meskipun tanggungjawab sekolah yang utama menyangkut perkembangan kognitif.
Proses belajar di bidang konatif, kognitif, afektif dan psikomotorik memang
harus saling dibedakan, tapi tidak dapat seluruhnya dipisahkan dengan yang
lain. Untuk belajar dibidang kognitif, siswa harus berkemauan, berperasaan
senang dan sering melakukan gerakan moorik tertentu; untuk belajar dibidang
afektif dengan dengan hasil yang menetap, perasaan siswa perlu disertai dengan
pengetahuan dan pemahaman serta kelincahan dalam bergerak. Dengan demikian,
pendidikan sekolah mengutamakan perkembangan kognitif sudah meletakkan suatu
dasar untuk belajar di bidang konatif dan afektif. Namun, perlu juga perhatian
khusus diberikan pada bekajar dibidang konatif dan afektif, sejauh kedua bidang
belajar ini dibedakan dan dapat dibina sendiri.
Dalam belajar konatif tujuan final yang harus dicapai adalah terbentuknya
kemauan yang bercorak dewasa dan bercirian tertanam dalam, tekun, sabar, penuh
keberanian, penuh pertimbangan dan mampu menentukan prioritas. Ciri-eiri ini
harus ditamkan dan dikembangkan, baik dalam lingkungan keluarga atau lingkungan
sekolah. Proses belajar konatif memang berlangsung dalam tahap-tahap tertentu
tapi memakan waktu yang bertahun-tahun. Bahkan harus dikatakan dahwa
dalamkeseluruhanya prosesnya terdiri dari danyak proses bagian atau subproses.
Hasil dari masing-masing proses bagian/subproses menjadi “milik pribadi” anak
yang sedang berkembang dan kemudian bertumpuk-tumpuk, sampai ahirnya kemauan
terbentuk sepenuhnya.
BAB II
KESIMPULAN
Awalnya
proses belajar itu menggunakan dua dimensi yakni dimensi yang pertama terdapat
dua bentuk belajar yaitu belajar reseptif versus belajar dengan menemukan
sendiri. Pada dimensi yang kedua terdapat juga dua bentuk belajar yaitu belajar
dengan menghapal saja versus belajar dengan memahami. Namun kedua dimensi itu
saling berhubungan sehingga dapat dikatakan bahwa proses belajar itu merupakan suatu aktivitas
psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang melalui
proses-proses belajar yang berbeda-beda sehingga menghasilkan suatu
pencapaian tertentu.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar